Tampilkan postingan dengan label bintang biru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bintang biru. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Februari 2015

ayah..


Ayah,
Ananda mu sedang belajar memahami. Setiap kata dan laku Ayah…
Sekian puluh tahun mengenal Ayah, ternyata ananda mu belum juga bisa memahami. Marah mu, bentakan mu adalah cara mu melindungi dari sengat dunia. Yang waktu kemarin membuat ku sempat tidak menyukai mu.
Ayah,
Ananda mu memang belum bisa menjadi anak sholiha. Namun, lihat Ayah… aku telah berusaha semaksimal usaha yang bisa ku lakukan untuk membuat Ayah bangga pada ku. Sebab, yang ku tahu untuk menjadi sholiha hanya dengan bakti dan do’a untuk mu.
Ayah,
Ananda mu, hanya ingin ridho mu. Karena aku tau, ridho mu ridho pencipta ku. Sehingga tiap langkahku tenang dan menenangkan.
Ayah, terima kasih telah menjadi Ayah dalam hidup ku…

Untuk semua Ayah, yang menolong ku setiap perjalanan.
Calon Ayah, dan anak-anak yang berterimakasih pada Ayah nya yang melengkapi hidup

Kamis, 04 Desember 2014

semoga lulus nya berkah


 Bismillahirrahmanirrahim
Skripsi ini saya niatkan untuk menjadi sebuah karya yang dapat dikaji siapa saja yang masih peduli akan pendidikan masyarakat. Karena masyarakat, Allah titipkan untuk kita bangun peradaban Islam. Dipersembahkan untuk segenap muslimin yang masih peduli dengan masyarakat di sekitarnya. Teruntuk Abah dan Ibu yang telah mengajarkan banyak hal untuk menjadikan hidup lebih bermakna. Abangda yang memilih menanti saya memenuhi separuh addin. Fiki, Dian dan Vivi adik-adikku yang terus mengajarkan untuk menjadi kakak terbaik kalian.
Tidak lupa terucap Jazakumullah untuk para dosen dan teman-teman yang mendukung proses skripsi ini, semoga Allah membalasnya. Ibunda Hj. Siti Aisyah yang menginspirasi untuk selalu menjadi yang terbaik di mata Allah. Para sahabat di Sekolah Pasar Rakyat yang menikmati pasang surut berorganisasi sejak awal 2012 hingga kini. Para pedagang pasar yang terus melecut semangat untuk memiliki “semangat petarung”. Semoga Sekolah Pasar Rakyat menjadi kendaran kita berjuang menjadi mandiri dan berkooperasi. Untuk segenap sahabat-sahabat keluarga besar Pelajar Islam Indonesia (PII) di penjuru negeri, perjuangan menuju Izzul Islam wal Muslimin masih melalui perjalanan panjang, teman.

Kamis, 13 Februari 2014

hanya ingin bercerita



Ingin bercerita dengan mu, sebuah hati yang diam-diam ku rindu
Kemudian mengingat tiba-tiba gaya mu diam-diam menyimpan rasa hampir purnama kesekian
Tapi kesibukan mu, cuek mu yang membuat aku tak bisa memahami mu
Kemarin pertama aku berpikir untuk menerima mu di tengah hujan yang tak kunjung menghangat
Lama, mampu ku menerima mu yang tak ku tahu mengapa ada setitik nyaman bercerita dengan mu

Setelah menerima mu, dirimu pun tenggelam dalam rintik hujan yang menyatu pada tanah
Hilang dan kembali kosong…
Jarak kita yang jauh membuat kita tidak memiliki kesempatan berkompromi
Hujan terus saja hadir menderas dan mengantar gelegar
Aku belum meyakini rasa yang dirimu antar di tiap nama yang terkirim
Merindukan hujan yang membuat kita kembali bercerita
Pelangi yang ada bersama tawa kita

Bisa kah aku kemudian menerima mu dan melengkapi lembaran hidup kita
Untuk menua dan merantai mimpi pada hujan malam ini

Rabu, 22 Januari 2014

untuk mu jingga ku



Aku selalu bahagia bila hujan turun, karena aku dapat mengenalmu sendiri
Aku bisa tersenyum sepanjang hari, karena hujan pernah menahan mu disini untuk ku
(Utopia-Hujan)

Aku menyebutnya hujan, hujan yang selalu mengingatkan aku untuk menengadahkan tangan merasakan sejuknya tetes hujan hingga ke dalam hati. Berjalan menatap biru langit yang selama ini sepi. Kemudian dirimu hadir menjinggakan biru ku yang telah kelu.
Menjadi pendamping mu, menemani gelak tawa mu, diam mu, sedih mu
Aku merasa cantik dengan panggilan singkat mu di layar telepon genggam ku. Hilda... sebuah nama itu cukup untuk aku mengetahui rasa mu. Jingga mu mengalahkan pelangi yang kemarin hadir, kemudian aku sekarang semakin tertunduk dalam untaian doa. Meminta mu yang dipilihkan Maha Cipta. Bila memang kita mampu saling memahami dan mendukung.
Ya, aku ingin kita dapat berlari bersama. Mengenggam tangan mu untuk menguatkan bahwa apa yang kita lakukan adalah bagian dari perjuangan untuk membangun sebuah peradaban. Yakinkan aku bila esok bersama kita akan berusaha untuk menjadikan diri indah dihadapan lainnya.
Mengistimewakan setiap diskusi kita. Menyemarakkan perjalanan kita mengitari belahan bumi. Sehingga kita akan mati dalam sebuah pelukan hangat yang menutup semua perjalanan kita. Hujan ini selalu menghangatkan hati ku untuk dapat mengingat janji kita untuk dapat saling menerima dan menua bersama.
Hati ku ini rapuh, ada secercah harapan untuk mu yang menenangkan kepanikan dan ketakutan itu. Sehingga kita mampu lebih kuat melewati semua. Jingga, terbit mu dan tenggelam mu selalu ku nanti. Karena jingga mu akan mengindahkan biru ku.
Sampai saat ini aku belum memahami mu, jadi ajarkan aku memaklumi phlegmatis mu. Melankolis ku sering tersinggung, terkadang koleris ku kesal dengan sanguinis mu yang tak cepat bergerak. Kebahagiaan ku hanya ingin menjadi seorang yang spesial di hidup mu. Satu-satunya!
Diantara kesulitan ku melewati hubungan jarak jauh ini, aku tetap mengayuh impian ku untuk satu purnama yang akan membawa mu ke istana kecil ku. Memilih gaun dan kerudung yang warnanya pas dengan kilau jingga mu. Lalu menyiapkan pesta sederhana dengan orang-orang yang akan mendoakan cinta kita.
Aku merindukan mu jingga, menjemput ku untuk sebuah rasa dan asa.
Yang ku lakukan kini hanya meminta keberanian dan kemantapan hati dalam melangkah bersama mu, jingga yang akan melengkapi sayap ku. Rusuk ku yang menguatkan punggung mu.

Hujan jingga Yogyakarta, 10 RA 1435-12 Jan. 14 detik ke 15.22

Selasa, 17 Desember 2013

hujan.. hujan...

Menikmati nyanyian hujan...
Dalam selimut hangat dan sebuah buku yang menemani

Menyanyikan lagu hujan...
Dengan sebuah payung biru berbunga, melangkah menghirup aroma basah

Menarikan tarian hujan...
Bersama mu, yang dikirim untuk menari bersama
Hanya dengan mengucap sebuah nama,
Kita merasa sebuah rasa tanpa nama
Senyum terkembang dari pijar air yang mengalir

Langkah ini terasa lengkap dengan iringan mu
Belajar menikmati secangkir kopi yang diri mu suka
Bercerita dengan kisah yang berat, tanpa batu tentunya
Haha... kisah ini romatika humoris
Nyaris seperti parodi yang menghibur di tengah kesibukan kita yang tidak jelas

Tahukah, diri mu tidak pernah ada dalam impian ku
Namun kini hadir mu menjadikan impian ku terwujud
Ah, pribadi mu menyenangkan dan menenangkan ku
Aku yang selalu panik dan khawatir
Hanya dengan memanggil sebuah nama di pesan singkat, hati kita terkait

Berdoa, memintal pinta pada Pemberi Hidup
Agar kita dapat belajar untuk dapat menua bersama
Menua untuk menebar banyak kebaikan pada kehidupan
Dan aku minta untuk tidak menjadi bidadari untuk mu
Sebab bidadari terlalu elok untuk ku yang masih perlu banyak belajar elok
Aku hanya mau menjadi bunga, yang mewangikan hidup mu, mewarnai langkah mu

Maafkan ketakutan yang berlebih, karenanya genggam ketakutan ku dengan keyakinan mu

Bahasakan sebuah rasa tanpa nama itu dihadapan keluarga ku
Bahasakan sebuah rasa tanpa nama itu dalam janji ikatan sehidup semati

Walau sesaat kita pernah saling melihat, dan waktu yang panjang kita terpisah jarak
Walau kita belum saling mengenal dan entah bagaimana rasa ini kemudian menari-nari
Walau kita hanya punya niat saling melengkapi, semoga ini menjadi indah

Hujan yang mewakilkan hati kita...
Menyatukan rasa di langit yang sama
Bersama hujan, aku merasa bersama mu
Hujan yang indah dan menginspirasi
Dan kata mu, menguatkan rapuh ku
Bila rasa mu berubah arah, tak lagi pada ku
Segeralah katakan pada ku

Perjalanan esok masih panjang,
Maukah mengajari aku untuk dapat menjadi teman hidup mu
Agar aku hati-hati dengan apa yang tidak diri mu suka
Dan berupaya melakukan apa yang diri mu suka dari ku

Sempatkan sedikit waktu untuk kita menyatukan cita kita
Kemana perjalanan yang kita akan lalui esok
Dimana kita akan membangun rumah senyum
Bagaimana cara kita untuk saling mengerti dan menguatkan
Apa yang kita perlukan untuk mendukung cita kita

Mungkin aku terlalu detail, aku hanya ingin jelas
Kemana diri mu akan membawa ku esok..

Hujan, sampaikan pada dia
“Terima kasih telah memilih ku
Jingga mu mewarnai biru ku dalam temaram senja”



Rabu, 06 November 2013

bekerja dalam balutan dedikasi


Bekerja, dalam balutan sebuah dedikasi

Mencintai pekerjaan dan bekerja untuk yang kita cinta

 

Tidak sebatas melakukan sesuatu tanpa melibatkan hati

Hati yang kita miliki adalah bagian dari penyempurna akal

Bekerja untuk sebuah makna dalam membagi kebahagiaan

Kesederhanaan, kebersahajaan hanya itu…

Yang akan menjadikan kita menjadi sebenarnya manusia

Gemerlap yang ditawarkan hanya penghibur mata sesaat,

Kemudian menjadikan hati ini kering makna

Lamat-lamat langkah ku memahami, arus ini terlalu deras

Hanya orang-orang yang memeluk Maha Pencipta di hatinya yang mampu berjalan

Tegar hingga sekelilingnya hampa pujian dan sorak

 

Pekerjaan ini sebuah pelita di tengah hilangnya kata hati

Dalam tiap peluh dan air mata sebuah makna memperkaya jiwa

Melihat mereka tersenyum menyambut salam dan derai ini

Bagian dari pesona eksotika kehidupan

 

Malam itu, pelengkap siang

Karena siang menjadi berarti ketika malam telah letih

 

Sukses adalah menjadi bagian penting dari kebahagiaan orang lain

Untuk mu yang terus bekerja dalam keletihan mengenggam pesan dari langit

 

Minggu, 12 Mei 2013

teruntuk LASKAR PEMIMPIN



Assalamu’alaikum Laskar Pemimpin...
Hati ini merindukan keluhan teman-teman yang protes dengan segala yang terjadi selama kita bertemu dan bicara. Kerinduan ini menggerakkan jemari ku untuk menulis jejak kebersamaan kita yang indah, teman.
Aku mengawalinya dengan sebuah keputusan untuk ikut bergabung mengelola pelatihan Al Azhar yang tanggalnya bertepatan dengan ujian tengah semester di kampus. Ya, aku menyiapkan semua perkuliahan dan kehidupan pribadi ku untuk dapat mendampingi para pemimpin yang luar biasa. aku tidak ingin setengah hati menjalani apa yang ku cinta. Pelatihan PII dimana pun selalu menjadi kecintaan ku. PII (Pelajar Islam Indonesia) menjadi bagian yang membentuk ku untuk lebih memaknai hidup dengan perjuangan bagi anak-anak dunia.
Pelatihan kepemimpinan PII juga mengajari aku untuk memiliki keluarga yang bersama bercita-cita untuk kehidupan yang lebih indah. Kali ini, pelatihan PII berbeda dari biasanya. PII diundang Yayasan Pesantren Islam Al Azhar untuk Latihan Lanjutan Kepemimpinan OSIS se-Indonesia, tentu akan berbeda implementasi dari pelatihan PII yang biasa kami lakukan.
Tanggal 27 April 2013, kereta yang menjemput ku di stasiun Lempuyangan Yogyakarta menjemput ku pukul 17.10. Padahal ku lihat di web PJ KA pukul 19.30, jadi masih bisa menemani teman-teman di komunitas Sekolah Pasar Rakyat siaran di Jogja TV. Ternyata pukul 16.00, teman-teman tim instruktur dari Jawa Timur sudah berada di Solo. Artinya kurang lebih sejam sampai di stasiun Lempuyangan, posisi ku saat ini di Wonosari Bantul. Akhirnya harus terpaksa meninggalkan siaran teman-teman untuk dapat tepat waktu sampai di stasiun.
Alhamdulillah, tepat waktu dengan kereta api itu sungguh sesuatu J.
Ada Kang Mahrus, Yunda Dewi keduanya sudah kenal sebelumnya di Bali. Yunda Rima dan Kang Adit pertama bertemu, ditambah dua orang ustadz tim Bahasa Arab yang hingga kini saya tidak ingat namanya (maafkan daya ingat saya). Sepanjang perjalanan berbincang banyak hal, ide-ide mengubah dunia bisa juga menjadi topik seru di gerbong kereta api malam itu. Hingga menjelang tengah malam, satu per satu kita tertidur. Alam bertasbih menemani jalan juang ini, teman.
Pukul 02.00 dini hari, gerbong merapat di stasiun Pasar Senen. Tidur hanya beberapa jam, kemudian melangkahkan kaki kecil ini menuju markas pelajar terkeren versi PII di menteng raya 58 Jakarta Pusat. Mempertahankan mata hingga dapat sholat subuh dengan berbincang di asrama PII wati yang imut. Dan esok pagi langsung coaching instruktur dengan semua yang sudah hadir, Kang Afif, Kang Helmi, Kang Erlan, Yunda Khusnul, Yunda Tika dan ustadzah Puput. Kecuali Yunda Nani dan Yunda Femina yang sedang di perjalanan, kami berbincang menyiapkan acara esok.
Gempita pembukaan acara Latihan Lanjutan Kepemimpinan di gedung kampus pusat Al Azhar menyambut kami yang hadir dengan berbagai harapan di mata peserta. Kami berangkat kemudian menuju Cigombong, Bogor di gedung diklat Yayasan Pesantren Al Azhar. Sepanjang perjalanan menyiapkan hati dan meluruskan niat ini untuk ibadah. Agar hati ini dikuatkan dengan segala uji dan coba yang terjadi.
Udara sejuk menyambut kami serombongan orang yang ingin esok lebih indah dengan warna-warni cita yang kami bangun. Kami masuk ke asrama untuk merapikan barang yang kami bawa lalu menikmati makan siang di ruang makan, walau tanpa diiringi hembusan angin dingin puncak yang ku harap. Hehe, Bogor kini tidak sedingin kata orang. Lalu peserta diminta mengisi beberapa perangkat untuk memenuhi persyaratan kepesertaan. Siang ini, pertama kalinya aku bertemu dengan ke 29 anak yang akan belajar bersama selama empat hari ini. 
Muhamad Raihan Fadilah
Muhammad Izzatul Wildan
Nurul
Anindita
Amanda Putri Charissa
Farah Almira Syahira
Nadindra Paramadeya Parwoko
Dita Savana Aqsalia
Shafira Fadillah
Laksita Ashiila Widanti
Lani Diana Paulus
Adela Damika Putri
Mecca Muncar Widyarifa
Muhammad Ghiffari Fachreziansyah
Farrel Akbar Ghifari
Muhammad Rizki Galuh Pratama
Muhammad Fauzan Daffairuzi
Maulana Gibran
Helmi Nur Syaifullah
Imam Reza Syachputra
Hazel Raditya Mizumareru
Alvan Defara Indrasta
Ananda Findez Amar
Muhammad Berdauno
Ghazy Prima Daffa
Reflian Krisna R.
Mutiara Ramadani
Muhammad Randi Susila Bakti
Muhammad Kenzo

Walau terkesan kurang manusiawi, ruangan yang disiapkan kurang kondusif karena masing-masing kelompok akan saling menganggu dan jumlah anak yang terlalu banyak. Aku mengkhawatirkan ada seorang anak saja yang tidak dapat saya dampingi maksimal. Teman, tangan ini hanya terbatas kata untuk mengubah dunia. Langkah kaki ini terlalu kecil untuk menjangkau impian di birunya langit. Hanya keyakinan pada Maha Indah yang kan mengindahkan perjalanan ini pada pinta ku. Dua rakaat sholat hajat memberi kekuatan dan keyakinan ikhtiar tangan dan kaki ini. Insya Allah...
Maafkan bila ada nama yang salah dan tak teringat di memory ini. Namun pertemuan kita akan menjadi lembar indah yang sulit terlupa teman...
Sore pertama ini, kita bertemu pertama kali sebagai kelompok 1. Aku bersyukur, angka 1 selalu spesial untuk ku. Anak pertama yang lahir di hari pertama bulan November, itu yang membuat aku mencintai angka 1 yang tidak akan ada duanya. Di gazebo kita melingkar untuk berbincang rencana selama kegiatan di sini. Perkenalan singkat dengan menceritakan tujuan datang menjadi pencairan suasana di tembok hati kita masing-masing. Dan hal terindah adalah “LASKAR PEMIMPIN” menjadi nama kelompok kita.
Kebanggaan hati kecil ini untuk ke 29 anak istimewa yang Allah titipkan pada ku.
Aku melihat, mendengar, merasa, menghirup gelegak ruang kebaikan di tiap tatapan, kata dan segala pikiran ketika duduk bersama ke 29 LASKAR PEMIMPIN. Hingga kekesalan teman-teman ingin aku menyebut nama, Siti Aminah Zubaidah yang memiliki 7 orang “Muhammad” muda dan 22 orang sahabatnya. Gelar terkeren yang aku miliki, tentu tak sekeren bila dibandingkan “jempol-jempol”. Hehe.. peace untuk observer kelompok 1 terunyu yang pernah bekerja sama dengan ku.
Ingin sebenarnya bercerita banyak hal, namun waktu kita berbatas. Dari kejauhan hanya untaian doa yang bisa ku ucap, semoga LASKAR PEMIMPIN dapat mengawali sebuah cita-cita yang ingin terwujud. Sebuah “Rumah Senyum” untuk semua anak dunia yang broken home, broken society and broken family agar tetap menginspirasi kehidupan dengan menjadi Abdillah yang membanggakan Penciptanya.
Semua yang di dapat selama kebersamaan kita tidak akan ada artinya tanpa amal sholih yang kita upayakan. Dan di akhir pagi itu kita bersama mengikat hati ini, agar tetap dapat bersilaturahim. Menjadikan diri sebagai pemimpin yang mengubah dunia!! Bukan nama yang ingin aku ingat, tapi karya apa yang kita tinggal untuk kehidupan? Tidak hanya sibuk pada permasalahan diri, tapi kebermanfaatan kita untuk Islam. Semoga ini menjadi amal jariyah, anak (ideologis) yang sholih dan ilmu yang bermanfaat.
Maafkan aku tidak bisa memberi lebih dari ini...
Terima kasih untuk ke 29 bintang yang berpijar di sudut kelam langit, Allah sayang pada kita J dan pada tim instruktur yang luar biasa mendampingi ku belajar.
Sebab dunia hanya untuk orang-orang yang mengistimewakan Allah dalam tiap laku hidupnya.

                                                                Jejak cinta Laskar Pemimpin “Khilda Maulidiah”