Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 April 2015

letakkan sejenak


Ku letakkan sejenak cengkeraman ku, terhadap kekhawatiran itu.
Apapun, ini lebih pada sebuah ujian dalam sebuah proses peningkatan kualitas diri.
Memilih, untuk tetap menapaki perjalanan yang telah ku mulai.
Hingga akhir yang baik…
Yakinlah, kemampuan yang ada menjadi alat yang akan sangat memudahkan.
Berjalan, terus berjalan. Jangan berhenti.
Semua hanya iluminasi dan ilusi optic.
Ada hal substantive dan esensi, teruslah berjalan agar menemui yang “nyata”.
Masih banyak yang belum diketahui.
Suatu hari nanti akan ada hikmah tersendiri.
Semoga dimudahkan dan diberkahi…

Senin, 23 Februari 2015

guru peradaban


Guru peradaban…
Dia yang tetap melangkah dalam “internal development”, bukan dia yang mengejar kesenangan. Karena dia tahu, hidup adalah memperjuangkan sesuatu. Dan sesuatu itu, adalah Rabb nya, Allah. Bukan karena Rabb nya butuh perlindungan, tapi dia tahu dengan memperjuangkan titah langit dia akan tetap ditolong Nya.
Dia tidak tahu apapun, selain setiap pekerjaan yang dilakukan ikhlas untuk Nya dan sesuai dengan perintah Nya. Dia benar-benar ingin membangun peradaban dengan mendidik, dengan memantaskan diri menjadi guru. Guru yang menggerakkan langkah-langkah kecil pemuda dan pemudia muslim untuk menegakkan kebenaran sesungguhnya.
Tidak diperbudak dan memperbudak. Tapi mengabdi dan mengelola.
Dia melepas napas untuk memenuhi tugas penciptaannya. Siapa yang mau menjadi produk gagal karena tidak menjalani tugas penciptaan? Dia pernah jatuh, tersungkur bahkan terkapar. Tapi dia tahu, Allah sedang mengajari sesuatu. Suatu hal yang akan memuliakan di suatu hari nanti sebagai sarana bertemu pencipta nya.
Dia, hanya tertarik pada konstruksi bangun peradaban.
Walau badannya mulai letih, menua. Dia masih memiliki azzam, menyambut kematian yang indah. Guru peradaban, teknisi manusia untuk membentuk pribadi-pribadi beradab. Kemanapun langkahnya, guru peradaban hanya melihat الله
Dari Nya, untuk Nya, pada Nya…

dan


Dan, dari semua yang terjadi adalah sebuah pelajaran. Dalam tiap jejak yang terbuat dan tertinggal, mendidik anak sebagai formalitas yang berujung pada kehampaan. Kemudian bekerja di tim yang terjebak sistemnya sendiri.
Kemudian, kaki memilih untuk bersentuhan dengan puncak idealism. Karang besar yang melindungi pohon kehidupan dari benturan ombak.
Bertahan duduk disini, melihat dan memperhatikan 37 orang yang memilih mengambil amanah untuk kembali membangun wilayahnya. Hanya, masih kuatir. Mampukah kita menjadi jembatan jariyah dalam dialektika dan diskursus?
Melelahkan, untuk sebuah pekerjaan ideal.
Pertarungan Islam yang selalu saja dia katakana “normative”. Apa salahnya kita mengembalikan sumber belajar dari sandaran Qur’an dan Hadis? Dunia ini sudah terlalu berasap dan berdebu dengan pemikiran yang menyerang Islam sebagai bentuk radikalisme dan ekstrimisme. Beberapa orang mengira mampu berjuang dengan meninggalkan sumber mutlak ajaran.
Mereka pikir siapa? Berbagai penelitian, filsafat, teori yang saling bertolak belakang sesuai kepentingan hanya kemudian menjadi sampah otak. Dan di sisi lain, kita lihat dogma ajaran yang membatasi ruang berpikir. Belum bisa bahasa sudah merasa pantas membuat hukum.
Perjuangan ini bukan hanya karena Islam butuh kita. Islam hanya bagian dari scenario besar untuk melihat ukuran keimanan. Kita yang membutuhkan Islam sebagai jembatan penjemput peradaban. Ini urusan peradaban… peradaban yang mengantarkan kita pada kebenara mutlak yang kini sering diingkari. Belajar dari sumber yang jujur menerima kebenaran. Hari ini seperti menyelam untuk sebuah mutiara. 

Senin, 19 Januari 2015

bunda pergi...


Dalam gelaran kehidupan yang carut marut, ada sebuah jejak yang kemudian aku temukan. Sebabnya mendasar, Bunda pergi. Akar permasalahan yang banyak terjadi akibat sekelumit dunia yang dikejar. Naïf mungkin, tapi aku tak pernah tertarik dengan gemerlap materi yang justru membuat hati ini tidak tenang. Iya, hanya ketenangan yang kita cari untuk menjadi berarti.
Tenang menjalani kehidupan dengan segala potensi yang diamanahkan untuk terus diasah. Tenang menutup usia dalam keadaan terbaik. Air mata dan darah yang menjadi saksi perjuangan. Bahwa, aku juga punya kontribusi. Merindukan kematian yang indah sebagai gerbang bertemu dengan Maha Pencipta. Kemudian bercerita tentang apa yang pernah ku lakukan selama 27 tahun ini.
Memohonkan ampunan, dan berterimakasih untuk semua keindahan yang terlewati. Lalu meminta pertolongan yang terbaik dari Nya, untuk tetap bersama ku. Menemani melewati ini, semua pekerjaan yang ku lakukan untuk sebuah ridho. Hanya pada Mu hidupku, matiku, ibadah ku…
Bersiap untuk menjadi pendamping seseorang yang dikirim untuk menggenapi din, lalu menjadi Bunda. Bila saja pekerjaan menjadi Bunda di rumah mendapat penghargaan yang layak, mungkin rahim peradaban akan banyak terlahir. Bunda yang hebat akan melahirkan generasi hebat. Kemana dirimu, wahai Bunda. Temani untuk belajar menjadi seorang Bunda penggerak peradaban.
Bunda,
Kehadiran mu menjadi sebuah mula kehidupan. Semua makhluk langit dan bumi berzikir untuk mu. Surga di kendalimu. Tiang Negara dirimu pancangkan. Perhiasan terindah dalam ketaatanmu.

Kamis, 11 Desember 2014

untuk mu

belajar menikmati hujan, menenangkan..
terus menerus menjadi gerimis yang menemani hari
tanpanya hari akan panas terik
aku mulai belajar melihat mu untuk mensyukuri
apa itu penantian

matahari, mungkin itu dirimu yang terus menyinari tanpa aku menyadari
hingga akhirnya aku meyadari arti
sebuah rasa dalam hati
alhamdulillah..

Kamis, 27 November 2014

denting


Denting…
Menyambut keluarga baru itu sebuah perasaan yang campur baur. Antara senang dengan hadirnya tapi juga khawatir bisakah beribadah melaluinya? Seperti sebuah perjalanan yang pasti menemui jalan menanjak, menurun atau berkelok. Menyambut keluarga baru menjadi sebuah kepastian. Setiap orang menginginkan seseorang yang istimewa mendampingi setiap jejak perjalanan. Seseorang yang bisa dilimpahkan kasih, berbagi sayang. Bisa kepada Ayah, Ibu, saudara, pasangan hidup, anak mungkin juga sahabat. Yang ku tahu, itu semua media kita mendekatkan diri pada Allah.
Denting…
Semakin dekat saatnya, semakin kita harap-harap cemas. Dan ternyata, kepingan hidup harus kembali menyadari diri. Darimana kita berasal, bagaimana kita tumbuh dan seperti apa kita menjalani hidup untuk sebuah cita. Semua itu tidak terlepas dari diri kita. Semua…
Dentingan, hati.
Dengan segala sesuatu yang kita terima, bersyukurlah. Ada yang belum menemukan apa yang kita miliki. Dengan segala sesuatu yang kita punya, bersabarlah. Ada secercah kebaikan di dalamnya. Dengan segala sesuatu yang kita miliki, amalkanlah. Hingga tidak lagi tersisa apapun yang kamu miliki selain Ridho Allah saja.
Denting-denting…

Minggu, 23 November 2014

sepi dalam rintik


Tiba-tiba…
Di tengah kesibukan ku, aktifitas ku yang padat dan nyaris tidak memberi waktu aku sendiri… Sedemikian luar biasa amanah yang diberikan dan dipercayakan pada ku. Menjaga nilai etis dan keilmuan sebagai seorang muslim. Dengan kiprah dan tanggung jawab yang menyertai warisan untuk generasi selanjutnya.
Sesungguhnya, hidup ku… mati ku… hanya untuk Nya. Maha Pencipta ku.
Semua yang ku lakukan selalu berupaya dengan pertimbangan rido Mu dan ikhlas ku. Di satu titik, aku mencari apa sebenarnya tugas ku? Melihat berbagai ketimpangan. Mendengar semua kebusukan. Merasakan hal buruk menimpa. Dan aku ternyata sebutir debu yang hanya memiliki segenggam niat ikhlas, kemudian kaki kecil yang masih mampu tetap berjalan. Walau kaki ku sudah tidak normal lagi berjalan sejak kecelakaan semasa kecil.
Berjalan… terus berjalan. Yang ku tahu hanya itu saja. Hingga aku menyadari waktu ku telah selesai.
Petualangan ku yang pada akhirnya mengembalikan ku pada sebuah titik balik. Kembali padaNya yang menjadi alasan ku tetap berjalan. Aku takut, aku salah memilih. Aku khawatir meninggalkan generasi yang kesulitan menjejak makna.
Dan kini saatnya semakin dekat. Waktu ku mulai habis. Aku akan bergerak di tempat selanjutnya. Memulai semua dari awal. Belajar menjadi seseorang yang lain. Dituntut dan menuntut umur. Umur yang membatasi sepi. Karena aku bukan sendiri, ada seorang lain yang berupaya diterima oleh ku. Menunggu ku dalam ketidakpastian jawaban. Walau memang mungkin nama kita berdua yang akan menjejak sebuah sejarah kehidupan baru.
Sepi ku bukan kegalauan rindu, sepi ku karena doa yang bernyanyi adalah sebuah tanya. Mampukah aku mendampinginya untuk menikmati ibadah ini? Dengan tetap menyediakan sebagian waktu kita untuk kerja-kerja ideal. Kerja-kerja tanpa kompensasi, hanya ingin membuat sebuah narasi di hari akhir nanti. Berjalan berdua, belajar menyamakan langkah. Memainkan irama dan nada yang tepat untuk harmoni kehidupan lain.
Di langit, malam ini, bulan sepi.
Geliat Yogya 9.05 pm 9.10.14 14.12.35