Tampilkan postingan dengan label karya cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karya cinta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Januari 2015

kembali berjalan


Bismillah, dengan nama Allah

Perjalanan…
Tidak pernah bosan, aku menjejakkan kehidupan ku di setiap perjalanan yang ku lalui. Aku ingin terus belajar menjejak makna di tiap lembar jejak kehidupan yang ku buat.
Di saat di ujung keletihan, hanya doa pada Nya yang menguatkan. Serakan hidup yang coba terus ku satukan untuk menyambut kelahiran mereka. Anak-anak yang akan menemani sisa hidup ku untuk berkeliling dunia. Belajar sejarah kejayaan peradaban Islam untuk mempersiapkan diri menyambut kembali datangnya kejayaan peradaban Islam selanjutnya.
Bersatu dengan rombongan gerbong penjemput Izzul Islam wal Muslimin.
Tidak sekedar menjadi penonton di luar ring, tapi bertarung…
Memperkenalkan masyarakat madinah era Rasulullah, indahnya ilmu pengetahuan yang menjadi jembata menuju Al Aliim di Andalusia, Baghdad, Mauritania. Belajar Islam di daerah tertindas seperti Palestine, Pattani, Papua, Bali.
Islam memang akan jadi musuh abadi setan berupa jin dan manusia.
Islam adalah hidup, dihidupkan orang-orang yang berpikir dan beramal. Semakin mengenal Islam semakin mencintai hidup. Karena paham alasan dan tujuan hidup, kita lebih banyak menyiapkan karya untuk dipersembahkan pada pemilik Hidup…
“Genggam dunia di tangan, bukan di hati”, Ali bin Abi Thalib
“Matilah setelah menjelajah bumi dan menjejak makna hidup”. Khilda Maulidiah

*bawa peta kemana-mana untuk mempermudah perjalanan mu
*membaca buku dan semesta J

Semoga keluarga yang dibangun membuka gerbang peradaban Islam,
Selamat datang Adabi Madinah dan Adiba Andalusia, selanjutnya akan menyusul Azzahro Granada dan Al Fath Palestine. Ayyash dan Azzam.

Sabtu, 01 November 2014

dalam kisah "Hijab Love Stories"



bismillahirrahmanirrahiim
Jilbab Prestasi
Aku mendengar kisah ini langsung dari Amalia D. Maghris, seorang teman yang sama-sama menuntut ilmu di kota pelajar Yogyakarta. Masa-masa kami dulu di pulau dewata membuat kami masih saling bertukar cerita. Apa yang dialami kurang lebih hampir sama dengan beberapa pelajar putri yang bersekolah di Bali. Keinginan untuk membagi cerita ini karena cukup miris dengan apa yang kami lihat di Yogyakarta yang tidak ada tekanan berjilbab. Aku meminta ijin padanya untuk ikut berbagi dengan menuliskannya. Berniat untuk menginspirasi...
Kami berasal dari keluarga sederhana yang melihat jilbab biasa saja. Bahkan beberapa anggota keluarga kami masih kurang nyaman dengan jilbab. Sebab masih terasa represi dari rezim orde baru yang membatasi atribut keagamaan. Kami sama-sama anak pertama yang memiliki adik, sehingga ada rasa tanggung jawab lebih untuk dapat menjadi contoh yang baik.
Kami berdua dipertemukan dalam sebuah pelatihan kepemimpinan di Denpasar saat masa liburan sekolah. Aku menjadi salah satu pengelola kelas, biasa disebut instruktur dalam organisasi pelajar yang kami laksanakan tiap tahun. Kegiatan rutin yang mengundang seluruh pelajar Islam untuk melatih kemampuan memimpin. Amalia menjadi salah satu peserta, diantara yang lain Amalia cukup memiliki potensi menjadi penggerak untuk lingkungannya.
Untuk ukuran pelajar Islam di Bali, kajian keIslaman dan organisasi kurang mendapat dukungan dari pemerintah. Otonomi daerah yang kemudian membatasi gerakan secara terbuka ditambah tendensi  pasca bom Bali yang mendeskreditkan Islam secara tidak adil. Kesamaan yang juga membuat kami dekat secara personal adalah rasa keberIslaman yang didobrak seusai mengikuti pelatihan kepemimpinan tersebut. Tantangan masyarakat juga cukup membuat kami menyadari, salahkah kita menunjukkan keberIslaman kita?

Saat itu Juni 2005, undangan pelatihan aku terima dari salah satu pengurus remaja masjid. Karena tidak mudah mencari anak yang bersedia mengikuti kegiatan seminggu penuh aku pun menjadi salah satu kandidat. Kekecewaan terhadap tidak diijinkannya aku untuk mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika merasa ada penyaluran. Orang tua terlalu khawatir untuk melepas aku pergi ke negara yang mereka kira “mengerikan”. Padahal sebagai tujuan wisata dunia, Bali pun tidak kalah “mengerikan”.
Pendobrakan internalisasi Islam yang aku terima setelah pelatihan membuat aku untuk menargetkan peningkatan kualitas ibadah setelahnya. Ramadan menjadi titik penting, rambut sebahu ku potong hingga sekitar 1 cm. Ini ku lakukan untuk “memaksa” diri untuk terus menutup saat bertemu dengan orang non mahrom. Efektif untuk ku, dengan alasan ini aku bisa menajwab saat saudara ku yang lain melihat kejanggalan diri ku.
Tepat pada tahun ketiga SMA, jilbab ku hingga kini tetap memahkotai kepala ku.
Ada hal luar  biasa yang ku alami. Tekanan tahun pertama dan kedua SMA ketika berseragam jilbab cukup kuat. Seragam sekolah ku paling berbeda dari yang lain sehingga mendapat banyak julukan yang membuat kesal namun tidak mampu diselesaikan.
“pocong siang-siang”, “ninja”, “tidak punya daun telinga”, “sok suci” dan lainnya.
Umpatan itu sama sekali terhenti saat sudah berupaya menata hati seiring dengan jilbab yang ku kenakan. Mengurangi sikap yang justru nantinya menjelekkan jilbab lalu Islam. Perubahan penampilan diiringi perubahan sikap. Keluarga menerima dan semakin mendukung aktifitas ku berorganisasi.
Tentu pilihan ini berkonsekuensi, jilbab harus bisa dibuktikan dengan prestasi. Tahun terakhir di SMA itu aku tutup dengan lima besar terbaik. Merasa terlambat sadar, tapi daripada tidak sama sekali. Keimanan kita mendukung keilmuan kita, begitu juga sebaliknya. Kajian jilbab secara perintah di Al Qur’an yang ternyata sama wajibnya dengan solat. Sehingga itu menjadi implikasi dari ketauhidan penggunanya. Dikuatkan dengan penemuan terkini secara psikologis, sosial dan kesehatan.
Dalam psikologi perempuan, kita ingin dihargai. Menutup aurat merupakan upaya menghargai diri sehingga lingkungan akan menghargai. Hati menjadi tenang karena kemudian tidak terjebak dengan mode tapi lebih ke kualitas otak dan hati. Hal yang dilakukan jilbaber semestinya lebih produktif tidak konsumtif dari apa yang ada. Tentu prestasi mudah diraih.
Secara sosial, masyarakat akan menjaga sikap bila berhadapan dengan orang yang menjaga diri dari sembarangan pandangan. Sikap yang terjaga akan menjadi contoh lingkungan sekitarnya. Ledakan seks bebas dapat ditekan dengan menjaga pandangan. Masyarakat sebagai kumpulan individu berprestasi kemudian semestinya akan membentuk diri sebagai masyarakat berperadaban.
Dan menurut kesehatan banyak manfaat yang diperoleh dari tertutupnya kulit perempuan dari snegatan matahari dan debu langsung. Disini aku meyakini akan kuasa Allah Maha pengatur yang jauh lebih paham kita sebagai ciptaan-Nya. Aturan yang dibuat sesuai dengan fitrah. Seperti buku petunjuk penggunaan peralatan elektronik yang menyesuaikan dengan kondisi peralatannya. Al Qur’an dan Assunah sebagai petunjuk menjadi manusia pun telah sangat komprehensif mengatur kehidupan manusia. 
Hal ini juga kurang lebih dialami Amalia, kepulangan dari pelatihan kepemimpinan dari organisasi yang sama dengan ku itu membuatnya memilih jilbab. Amalia beberapa kali diskusi dengan ku dan beberapa teman satu organisasi untuk menyiapkan perijinan menggunakan jilbab di sekolah. Kepala sekolah tidak memberi jawaban tegas, boleh atau tidak. Kemudian Amalia tetap “nekat” menggunakan jilbab di sekolah. Tantangannya adalah membuat seragam khusus yang tidak disediakan di sekolah. Biaya dan kegelisahan hati menyiapkan reaksi seisi sekolah dengan penampilan “baru” Amalia dengan jilbab.
Hari pertama, Amalia seperti “makhluk asing” yang mendapat sorotan banyak mata. Ya, karena dia pertama yang berbeda. Amalia meminta teman-teman satu gerakan organisasi untuk doa dan dukungan agar dikuatkan. Amalia menginjak tahun ketiga juga saat itu. Proses yang dilalui tidak semulus aku yang telah bersekolah di sekolah Islam. Sekolah Amalia umum dan menemui seorang guru yang tendensius melarang Amalia mengikuti mata pelajarannya. Beberapa kali diskriminasi dialami dengan pemberian nilai yang buruk dan tidak dianggap kehadirannya.
Disini nampak, Allah akan memberi kekuatan bagi siapa yang berjalan menegakkan agama-Nya.
Amalia memborong berbagai prestasi yang diikutinya. Selain terkenal karena jilbab yang digunakannya, sejumlah prestasi membuat label “serakah” prestasi disandangnya. Ini bagian dari bentuk tanggung jawab terhadap pilihan. Berjilbab dan berprestasi adalah sebuah keniscayaan. Iman disandingkan dengan ilmu menjadi cahaya tersendiri bagi pemiliknya. Konsekuensi keimanan kita adalah amal yang dikuatkan ilmu tersebut.
Beberapa adik kelas Amalia mengikuti jejaknya untuk menutup aurat, karena label “jilbab prestasi” menjadi gengsi tersendiri. Keberlanjutan ini menjaga nilai Islam di tengah kepungan otonomi daerah yang ternyata hanya mengakomodir kebebasan berekspresi dengan meninggalkan atribut beragama. Kebebasan yang membatasi bukan kebebasan sebenarnya. Mendukung rok mini harusnya seimbang dengan mendukung jilbab. Kebebasan apa yang diperjuangkan, bila ternyata masih dibatasi seperti ini?
Memang kami belum sepenuhnya benar, tapi kami berupaya benar di hadapan Pencipta kami. Agar tidak “menyesal” menciptakan kita.
Jilbab bukan simbol, tapi sebuah eksistensi sebagai muslimah. Tanpa jilbab, masihkah identitas muslimah pantas? Sebab Islam berarti tunduk, muslimah tentu tunduk dengan aturan Islam. Jilbab bukan pembatas ekspresi, justru ruang berekspresi seluas-luasnya menjadi perempuan. Sebab perhiasan mewah dibungkus kotak yang cantik, tidak diobral dengan murah.
Waktu hijrah ke berbagai tempat yang membebaskan penggunaan jilbab, bahkan mewajibkan jilbab justru terasa jilbab kering makna. Rambut depan dan ekor rambut yang sengaja ditampakkan. Kerudung tipis dan baju membentuk tubuh. Bahkan hanya sebagai bagian dari mode terkini. Keimanan seseorang diukur dari seberapa lebar jilbabnya.
Jilbab, bukan aturannya yang salah. Tapi penggunanya yang tidak mengikuti aturan pemakaian sehingga terjadi mal praktek dan gangguan pada lingkungan sekitar. Jilbab sebagai garis tegas untuk menjaga konsistensi kita memperbaiki diri.
Perempuan, muliakan diri dengan jilbab prestasi 


cerita ini disampaikan tidak utuh untuk menjaga hak penerbit bukunya :)





Rabu, 22 Januari 2014

untuk mu jingga ku



Aku selalu bahagia bila hujan turun, karena aku dapat mengenalmu sendiri
Aku bisa tersenyum sepanjang hari, karena hujan pernah menahan mu disini untuk ku
(Utopia-Hujan)

Aku menyebutnya hujan, hujan yang selalu mengingatkan aku untuk menengadahkan tangan merasakan sejuknya tetes hujan hingga ke dalam hati. Berjalan menatap biru langit yang selama ini sepi. Kemudian dirimu hadir menjinggakan biru ku yang telah kelu.
Menjadi pendamping mu, menemani gelak tawa mu, diam mu, sedih mu
Aku merasa cantik dengan panggilan singkat mu di layar telepon genggam ku. Hilda... sebuah nama itu cukup untuk aku mengetahui rasa mu. Jingga mu mengalahkan pelangi yang kemarin hadir, kemudian aku sekarang semakin tertunduk dalam untaian doa. Meminta mu yang dipilihkan Maha Cipta. Bila memang kita mampu saling memahami dan mendukung.
Ya, aku ingin kita dapat berlari bersama. Mengenggam tangan mu untuk menguatkan bahwa apa yang kita lakukan adalah bagian dari perjuangan untuk membangun sebuah peradaban. Yakinkan aku bila esok bersama kita akan berusaha untuk menjadikan diri indah dihadapan lainnya.
Mengistimewakan setiap diskusi kita. Menyemarakkan perjalanan kita mengitari belahan bumi. Sehingga kita akan mati dalam sebuah pelukan hangat yang menutup semua perjalanan kita. Hujan ini selalu menghangatkan hati ku untuk dapat mengingat janji kita untuk dapat saling menerima dan menua bersama.
Hati ku ini rapuh, ada secercah harapan untuk mu yang menenangkan kepanikan dan ketakutan itu. Sehingga kita mampu lebih kuat melewati semua. Jingga, terbit mu dan tenggelam mu selalu ku nanti. Karena jingga mu akan mengindahkan biru ku.
Sampai saat ini aku belum memahami mu, jadi ajarkan aku memaklumi phlegmatis mu. Melankolis ku sering tersinggung, terkadang koleris ku kesal dengan sanguinis mu yang tak cepat bergerak. Kebahagiaan ku hanya ingin menjadi seorang yang spesial di hidup mu. Satu-satunya!
Diantara kesulitan ku melewati hubungan jarak jauh ini, aku tetap mengayuh impian ku untuk satu purnama yang akan membawa mu ke istana kecil ku. Memilih gaun dan kerudung yang warnanya pas dengan kilau jingga mu. Lalu menyiapkan pesta sederhana dengan orang-orang yang akan mendoakan cinta kita.
Aku merindukan mu jingga, menjemput ku untuk sebuah rasa dan asa.
Yang ku lakukan kini hanya meminta keberanian dan kemantapan hati dalam melangkah bersama mu, jingga yang akan melengkapi sayap ku. Rusuk ku yang menguatkan punggung mu.

Hujan jingga Yogyakarta, 10 RA 1435-12 Jan. 14 detik ke 15.22

Selasa, 21 Januari 2014

jejak serambi Mekkah

Perjalanan ini dimulai dari keputusan menjadikan ku sebagai bagian tim training di serambi Mekkah, ya propinsi DI Aceh yang istimewa. Sebuah propinsi yang memiliki eksotika tersendiri, berada di ujung barat kepulauan Indonesia. Berangkat dari kota gudeg, tempat menuntut ilmu dari tanggal 10 November 2013. Walau acara masih tanggal 15 November 2013 di Banda Aceh, karena berbagai hal harus berangkat lebih awal. Kehabisan tiket kereta api yang kini tidak mudah di dapat yang sesuai dengan kantong mahasiswa cukup membuat kebingungan. Beruntung dapat kereta Krakatau yang bertepatan hari ini resmi digunakan, sebuah kisah sendiri. Menghabiskan sebuah bacaan novel dengan sesekali menikmati eksotika persawahan di sisi jendela kereta... indah. Sampai di jakarta istirahat untuk esok pagi segera ke bandara. Ketakutan akan kemacetan parah kota jakarta, membuat kami bertiga tim training terlalu pagi dan akhirnya kelaparan. Menunggu jadwal pesawat menghilangkan rasa kantuk yang harusnya dapat dibalaskan dalam pesawat. Sesampainya di bandara Sultan Iskandar Muda kami disambut tuan rumah yang sangat ramah. Bentuk gedung di bandara seperti masjid karena ada kubah di atasnya. Menyusuri kota Banda Aceh hingga ke lokasi training memperlihatkan kita budaya asli masyarakat setempat. Bersyukur masih banyak terdapat persawahan yang menyejukkan mata. Suhu yang cukup gerah menyambut kami di gedung lokasi kegiatan. Benturan budaya dan paradigma kami lalui selama 10 hari proses training. Melelahkan sebenarnya, terjebak dalam kegalauan menuntut proses ideal di tengah keterbatasan teknis. Kajian proses training kali ini membawa kita pada konsep dakwah dalam kearifan lokal. Perda syariat yang diberlakukan masih menjadi polemik isu elitis. Mayarakat umum masih banyak yang belum memahami. Penegakannya pun masih terkendala teknis di lapangan. Penurunan nilai agama justru turun setelah terpaan tsunami 2004 silam. Banyak bukti betapa terbatasnya manusia dalam bencana ternyata belum cukup menyadarkan keMahaan. Daerah konflik berpuluh tahun juga menyisakan rangkaian luka yang tak mudah hilang. Pergerakan masyarakat masih terbatas. Di sini kami tahu, luka psikologis tidak mudah sembuh. Ruang kosong ruhiyah itu memahamkan kami bahwa kuatnya perjuangan tokoh Aceh di dorong oleh kondisi masyarakat yang ketika itu ditekan secara eksternal. Ya, lagi-lagi kita tahu betapa pentingnya mendefinisikan siapa musuh kita. Untuk tahu langkah apa yang akan kita lakukan apakah sudah sesuai dengan garis yang kita perjuangkan. Sekali lagi, kita belajar. Di tiap perjalanan kita belajar untuk memahami tipologi seseorang yang terbentuk dari latar belakang yang menjadi bagian pendewasaan masing-masing.

Selasa, 17 Desember 2013

hujan.. hujan...

Menikmati nyanyian hujan...
Dalam selimut hangat dan sebuah buku yang menemani

Menyanyikan lagu hujan...
Dengan sebuah payung biru berbunga, melangkah menghirup aroma basah

Menarikan tarian hujan...
Bersama mu, yang dikirim untuk menari bersama
Hanya dengan mengucap sebuah nama,
Kita merasa sebuah rasa tanpa nama
Senyum terkembang dari pijar air yang mengalir

Langkah ini terasa lengkap dengan iringan mu
Belajar menikmati secangkir kopi yang diri mu suka
Bercerita dengan kisah yang berat, tanpa batu tentunya
Haha... kisah ini romatika humoris
Nyaris seperti parodi yang menghibur di tengah kesibukan kita yang tidak jelas

Tahukah, diri mu tidak pernah ada dalam impian ku
Namun kini hadir mu menjadikan impian ku terwujud
Ah, pribadi mu menyenangkan dan menenangkan ku
Aku yang selalu panik dan khawatir
Hanya dengan memanggil sebuah nama di pesan singkat, hati kita terkait

Berdoa, memintal pinta pada Pemberi Hidup
Agar kita dapat belajar untuk dapat menua bersama
Menua untuk menebar banyak kebaikan pada kehidupan
Dan aku minta untuk tidak menjadi bidadari untuk mu
Sebab bidadari terlalu elok untuk ku yang masih perlu banyak belajar elok
Aku hanya mau menjadi bunga, yang mewangikan hidup mu, mewarnai langkah mu

Maafkan ketakutan yang berlebih, karenanya genggam ketakutan ku dengan keyakinan mu

Bahasakan sebuah rasa tanpa nama itu dihadapan keluarga ku
Bahasakan sebuah rasa tanpa nama itu dalam janji ikatan sehidup semati

Walau sesaat kita pernah saling melihat, dan waktu yang panjang kita terpisah jarak
Walau kita belum saling mengenal dan entah bagaimana rasa ini kemudian menari-nari
Walau kita hanya punya niat saling melengkapi, semoga ini menjadi indah

Hujan yang mewakilkan hati kita...
Menyatukan rasa di langit yang sama
Bersama hujan, aku merasa bersama mu
Hujan yang indah dan menginspirasi
Dan kata mu, menguatkan rapuh ku
Bila rasa mu berubah arah, tak lagi pada ku
Segeralah katakan pada ku

Perjalanan esok masih panjang,
Maukah mengajari aku untuk dapat menjadi teman hidup mu
Agar aku hati-hati dengan apa yang tidak diri mu suka
Dan berupaya melakukan apa yang diri mu suka dari ku

Sempatkan sedikit waktu untuk kita menyatukan cita kita
Kemana perjalanan yang kita akan lalui esok
Dimana kita akan membangun rumah senyum
Bagaimana cara kita untuk saling mengerti dan menguatkan
Apa yang kita perlukan untuk mendukung cita kita

Mungkin aku terlalu detail, aku hanya ingin jelas
Kemana diri mu akan membawa ku esok..

Hujan, sampaikan pada dia
“Terima kasih telah memilih ku
Jingga mu mewarnai biru ku dalam temaram senja”



Jumat, 08 November 2013

senyum hujan

memayungi harapan dari keletihan derai hujan,
mencari tempat berteduh akan penat yang pekat...
pulang kembali, menegakkan diri dalam badai

senyum hujan...

tarian derik, menanti jingga bersama biru
mulai lelah berjalan sendiri
menanti seorang yang melengkapi minum secangkir kopi
belajar menikmati kopi dengan mocca dan susu
duduk di sudut ruangan diiringi musik dan disanding buku
menjelajah rasa dalam diam
memilih untuk bertahan di bawah cahaya

berjalan... terus bergerak.
pandangi garis tujuan yang selalu indah dengan makna integritas

Rabu, 06 November 2013

bekerja dalam balutan dedikasi


Bekerja, dalam balutan sebuah dedikasi

Mencintai pekerjaan dan bekerja untuk yang kita cinta

 

Tidak sebatas melakukan sesuatu tanpa melibatkan hati

Hati yang kita miliki adalah bagian dari penyempurna akal

Bekerja untuk sebuah makna dalam membagi kebahagiaan

Kesederhanaan, kebersahajaan hanya itu…

Yang akan menjadikan kita menjadi sebenarnya manusia

Gemerlap yang ditawarkan hanya penghibur mata sesaat,

Kemudian menjadikan hati ini kering makna

Lamat-lamat langkah ku memahami, arus ini terlalu deras

Hanya orang-orang yang memeluk Maha Pencipta di hatinya yang mampu berjalan

Tegar hingga sekelilingnya hampa pujian dan sorak

 

Pekerjaan ini sebuah pelita di tengah hilangnya kata hati

Dalam tiap peluh dan air mata sebuah makna memperkaya jiwa

Melihat mereka tersenyum menyambut salam dan derai ini

Bagian dari pesona eksotika kehidupan

 

Malam itu, pelengkap siang

Karena siang menjadi berarti ketika malam telah letih

 

Sukses adalah menjadi bagian penting dari kebahagiaan orang lain

Untuk mu yang terus bekerja dalam keletihan mengenggam pesan dari langit

 

Minggu, 27 Oktober 2013

jamu ku

Sebuah cerita dari sudut senja kota Gudeg Yogyakarta yang kaya akan warisan budaya Indonesia. Beberapa kali memang sering jalan-jalan ke pasar rakyat, melihat dan menyentuh langsung kehidupan geliat ekonomi kerakyatan. Rakyat yang dimaksud adalah rakyat yang bergerak setiap hari untuk menjalani hidup di tengah gempuran jaman. Bukan rakyat yang memikirkan orang dan lingkungan sekitarnya. Seringnya kami menyusuri jalanan di pasar rakyat membuat kami memahami makna perjuangan yang sulit diceritakan dengan lembaran kata. Hingga di satu titik, eksploitasi pasar rakyat semakin menjadi. Gempuran berbagai tawaran dari pasar swasta yang lebih modern, yang kini menjadi pusat kebudayaan baru. Semua tampilan gaya hidup ditawarkan secara masif hanya untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Dan tidak disangka, banyak aktifis pro rakyat yang mudanya berteriak kini menjadi bagian penting dari gerbong penipu rakyatnya sendiri. Tanpa kami sadari, wajah dan pakaian kami yang tidak seperti warga pasar pada umumnya membuat kami seolah tidak berbeda dengan para eksploitator itu. Disini langkah ku terhenti. Berpikir sejenak untuk tetap dapat membaur dengan warga namun tetap pada prinsip sabut kelapa yang pernah diajarkan pada ku. Seorang fasilitator itu bersikap seperti sabut kelapa, tidak tenggelam sepenuhnya, namun juga tidak mengapung sepenuhnya. Tenggelam pada arus yang menghilangkan kepribadiannya dan juga tidak membatasi ruang dengan tegas. Sabut kelapa yang berada di tengah antara permukaan dan dasar air. Posisi paling bersih dari debu dan kotoran hingga menjalankan tugas dengan garis prinsip yang jelas. Duduk di seorang pedagang jamu merupakan pilihan nyaman untuk menikmati pasar rakyat. Di tengah himpitan sesaknya pasar rakyar dari kebijakan yang tidak bijak di lapangan. Segelas kecil jamu dengan mendengarkan kisah dari pedagang jamu yang telah puluhan tahun menggeluti usaha jamu merupakan nyanyian tersendiri. Pesimis, minder dan diam. Rasa itu yang ku simpulkan dari rangkaian kisahnya. Tidak ada kebanggaan menjadi seorang pedagang kecil di pasar rakyat yang napasnya kini tersengal. Apalagi kebanggan menjadi pedagang jamu yang berpuluh tahun tidak berkembang. Tetap dengan beberapa botol bekas minuman merek perusahaan internasional dan sebuah meja kecil. Saat istrahat malam, penghuni wisma sofie berkumpul untuk berkisah perjalanan hari ini. Sepulang dari sebuah cafe jamu di jalan kaliurang, menginspirasi kami untuk dapat melatih kami berwirausaha. Ya, menjual jamu. Tentu malam ini kita membangun kekuatan ideologinya. Tanpa landasan ideologi, perjalanan ini mungkin akan tidak mudah kita jalani. Menjual dengan semangat “one day one jamu”, meminum jamu merupakan bagian dari kecintaan kita pada kekayaan bumi Indonesia. Jamu merupakan pilihan utama untuk semua kebutuhan tubuh kita, bukan herbal alternatif. Perlahan, lamat-lamat kami memproses jamu dari membeli bahan dan peralatan. Kuali berbahan genteng tanah liat, gelas batok kelapa, parut, kunyit, asam, gula jawa dan gula tebu. Kami menjual dengan botol ukuran 330 ml dengan harga Rp. 5.000. Diawal ini kami bisa memproduksi 10 botol sekali produksi, dengan warna kekuningan yang mewarnai kuku cantik kami. Di tengah kesibukan kura-kura (kuliah rapat-kuliah rapat) mahasiswi wisma sofie, produksi dan marketing produk. Berjualan hal ideologis memang butuh penjelasan ekstra bagi beberapa orang yang belum memahaminya. Berbeda dengan teman-teman di Sekolah Pasar Rakyat yang bermarkas di Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM, tanpa banyak berkisah mereka menjadi pelanggan tetap dengan segenap omelan dan kritiknya untuk meningkatkan mutu produksi. Ke berbagai pasar rakyat yang kami datangi pun menjadi perbandingan harga bahan produksi, sungguh kami mendapat banyak kisah. Harga kunyit kisaran Rp. 4.000-8.000, hingga di Rp. 3.000 membuat tercengang. Berapa keuntungan petaninya? Padahal dengan seiring banyaknya teman yang bertanya khasiat jamu kunyit asam ini kami juga belajar mencari tahu. Dengan mengetik di kitab canggih mbah google “manfaat kunyit asam”, kita akan menemukan berbagai khasiat luar biasa dari rimpang satu ini. membaca satu per satu manfaat kunyit asam membuat kita memahami betapa eksotika kekayaan Indonesia terpendam hanya ketidaktahuan kita akan apa yang kita miliki selama ini... Semakin semangat rasanya mengembangkan jamu sebagai wirausaha sosial, konsep yang sedang dikembangkan oleh beberapa komunitas di Indonesia sebagai jawaban tantangan kapitalisme global. Cita-cita ini nantinya akan mengembangkan pengrajin jamu seluruh Indonesia untuk dapat mengejar prosedur operasional standar produksi. Mendidik masyarakat Indonesia untuk terus belajar mengistimewakan Indonesia dari hal kecil di sekitar kita. Untuk semua bunda, cerita anak kurang gizi maupun malnutrisi hanya akan menjadi masa lalu. Karena dari dapur kita, kita bisa menyehatkan dan mencerdaskan anak-anak kita. Terima kasih, Ibunda yang selalu menginspirasi ;) Kami mencintai mu karena Allah mencintai mu... Bunga-bunga wisma sofie, FathiaLestari, KhildaMaulidiah, LilyRetnoA., RahmiWijayanti, Nurdana-Nurdani. Be inspire great mother ya!!!